Berwisata di Batas Negara RI-PNG

WILAYAH Pos perbatasan antar dua Negara sebagian besar identik dengan wilayah yang  ‘rawan’ terutama soal keamanan,  dijaga ektra ketat oleh aparat  dan tidak bisa sembarang orang melintasinya. Hal yang sangat berbeda terdapat di Pos Lintas Batas RI-PNG di Skouw-Wutung, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. Wilayah pos lintas batas ini justru menjadi salah satu Destinasi Wisata yang ramai dikunjungi. Unik Bukan? Anda penasaran?

Ya, hal yang jarang ditemui di wilayah lain, dimana Pos Lintas Batas dua negara terkesan ‘rawan’ didatangi, kebalikannya di Jayapura, Pos Lintas Batas RI-PNG ini selalu didatangi pengunjung hampir setiap harinya.

Warga PNG usai berbelanja di Wilayah Indonesia, melewati Wilayah bebas di antara antara tapal batas dua Negara RI-PNG, sebelum masuk wilayah PNG. Nampak dikejauhan Menara Suar yang jadi ciri khas Pos Lintas Batas dua negara ini

Terlebih dalam beberapa tahun belakangan ini, sejak Pos Lintas Batas Skouw – Wutung di renovasi menjadi lebih tertata dan rapi, warga Kota Jayapura selalu mendatangi wilayah ini untuk berekreasi.  Bagi orang luar Jayapura  atau bahkan luar Papua, rasanya tidak lengkap  datang ke Jayapura kalau tidak berkunjung ke Pos Lintas Batas RI-PNG di Skouw- Wutung ini. Selain karena Pos Lintas Batas yang dibangun lebih modern dengan standar internasional, dekorasi bangunan,  penataan taman dan aksesoris lainnya melengkapi daya tarik pengunjung.

Yang lebih membuat penasaran, pengunjung bisa melewati batas Negara RI dan memasuki wilayah Negara PNG dengan bebas tanpa prosedur birokrasi yang rumit, tanpa Pasport dan Visa.  Setelah melewati, pengunjung bisa menikmati indahnya pemandangan Kampung Wutung di kejauhan dari atas bukit, sambil berbelanja souvenir dan beraneka barang produk PNG yang dijual penduduk lokal.

panorama keindahan Kampung Wutung-PNG, dapat dilihat perbukitan di sekitar Pos Lintas Batas

Kampung Wutung masuk dalam wilayah Sandaun Province -PNG dengan ibu Kota Vanimo, kampung ini merupakan kampung terdekat dengan perbatasan RI.

Bagaimana mencapai wilayah Perbatasan RI-PNG ini? Dari Kota Jayapura, dapat ditempuh melalui jalan darat kurang lebih 60 Km atau sekitar 1 jam 30 menit  lama perjalanan dengan  kendaaran.  Tidak ada angkot khusus yang melayani trayek ke tempat ini. Anda mesti menggunakan kendaraan pribadi, mobil rental/sewaan atau sepeda motor.

Dari Kota Jayapura menuju ke Skouw, terlebih dahulu melewati wilayah Entrop, Kotaraja dan Abepura kearah timur.  Jika dari Bandara Sentani, langsung menuju Abepura.  Selepas  Abepura, perjalanan melewati Tanah Hitam, Abe Pantai, Kampung Nafri hingga Koya -wilayah Trasmingrasi.  Sepajang perjalanan, anda dapat melihat pemukiman penduduk, aktivitas masyarkat bertani dan berkebun,  dan disuguhi pemandangan hutan dan kebun warga, serta di sisi timur dapat dilihat keindahan teluk Youtefa dan teluk Humbold di kejauhan.  Mobilitas kendaraan cukup ramai, karena penduduk Koya dan Kabupaten Keerom melewati jalan ini untuk beraktivitas di Kota Jayapura.

Sampai di Koya, anda bisa melewati Koya Barat, juga melalui Koya Timur. Selepas Koya, memasuki wilayah Skouw, selanjutnya sampai di Pos Perbatasan RI-PNG.

Jalan menuju wilayah Perbatasan tidak perlu diragukan, mulus, karena permukaan jalan diaspal Hotmix. Berstatus jalan negara,  jalan ini terawat dengan baik. Berkendara pun terasa nyaman dan aman. Sebelum sampai di Pos Lintas Batas, terlebih dahulu melewati jembatan sungai Tami. Arusnya deras, tetapi airnya sangat kabur. Tak banyak yang dapat dilakukan di sungai kabur ini.

Tak ada birokrasi yang rumit. Pewakilan pengunjung cukup melapor, meniipkan KTP/SIM di Pos Pamtas TNI, anda sudah bisa masuk berkunjung sambil berekreaksi di Pos Lintas Batas RI-PNG

Setibanya di Pos Lintas Batas RI-PNG, pengunjung cukup melapor di Pos Pamtas TNI. Pewakilan pengunjung cukup menyerahkan kartu identitas, KTP atau SIM. Setelah itu anda bebas memasuki arena Pos Lintas Batas tersebut.

Siapapun bebas memasuki area Pos Lintas Batas ini, bukan berarti wilayah ini tidak dijaga.  Satuan Tugas (Satgas) Pengamanan Perbatasan ( Pamtas) RI-PNG menjaga area ini 24 jam. Mulai dari pos masuk hingga pagar batas negara.  Pada hari biasa rata-rata 300-500 pengunjung. Pada akhir pecan atau hari libur,  jumlahnya mencapai 1000 hingga 1500 pengunjung.

Pos lintas batas ini dibangun dilahan seluas 10.112 meter persegi, sedangkan luas bangunan mencapai 7.619 meter persegi yang terbagi dalam zona inti dan zona sub inti.

Bagian inti  dilengkapi fasilitas klinik, gudang sita, bangunan jembatan timbang, bangunan X-ray mobil pengangkut barang, bangunan pelayanan terpadu ke datangan, chek poin, bangunan utilitas dan koridor pejalan kaki.

Desain Pos Lintas Batas Skouw mengusung budaya lokal Papua, yakni mengadaptasi bentuk bangunan khas Rumah Tangfa. Rumah Tangfa merupakan rumah pesisir di daerah Skouw, yang memiliki atap dengan bentuk perisai dan dua ruang panjang untuk masyarakat berkumpul.

Aspek modern, megah, cantik namun memiliki kearifan lokal karena dihiasi dekorasi  ornament lokal sesuai karateristik budaya setempat.  Dibangun sejak Desember 2015, diresmikan Presiden Jokowi pada 9 Mei 2017.

Sosis PNG dan Daging Domba Goreng, Siap disajikan. Dapat dibeli dengan harga 1 Sosis 5 Kina (Rp 25 ribu), makannya ditemani Pisang Goreng.

Dibalik bagunan inti, ada taman-taman yang tertata rapi, sebuah patung burung garuda berukuran besar. Pengunjung tidak melewatkan kesempatan berfoto di lambang Negara ini.

Memasuki pagar batas Negara, ada pos aparat ditempati 2-3 orang prajurit. Dari pagar, pengunjung bisa melewati di area bebas. Dan untuk masuk ke wilayah PNG, melewati pos imigrasi. Lagi-lagi, pengunjung bebas melewatinya tanpa menunjukan surat apapun. Cukup permisi, anda sudah bisa memasuki  di wilayah negara PNG. Satu-satunya yang dilarang dibawa adalah kamera DSLR  (kecuali anda memasukannya ke dalam tas).  Petugas Imigrasi atau tentara PNG akan diminta kamera anda untuk dititip di Pos, dan dapat diambil jika selesai berkunjung ke Wilayah perbatasan PNG . Namun jangan kecewa, karena memotret dengan camera HP tidak dilarang. Anda bebas mengabadikan moment apa saja yang anda temui.

Melewati Pos Imigrasi PNG, ada terminal angkutan umum. Penduduk PNG dari Wanimo dan kampung-kampung di wilayah PNG, hampir setiap hari berbelanja di Jayapura, lalu kembali ke PNG. Kebanyakan mereka menggunakan angkutan umum tadi. Sebagian lagi menggunakan mobil pribadi.

beraneka Souvenir khas Papua Nugini dijual warga lokal Kampung Wutung di Perbatasan RI-PNG

Diseberang terminal, ada pondok-pondok jualan masyarakat dan pedagang asal PNG. Berbagai produk dan barang dijual disini. Topi, payung, baju, handuk, kain, mangkuk, kaos, twisties. minuman ringan, cemilan, kornet, tas, bilum ( noken) dan macam-macam barang Souvenir lainnya.

Andapun bisa menikmati Sosis PNG yang terkenal itu atau potongan daging domba yang digoreng, Daging Goreng dan sosis ini dimakan bersama pisang yang goreng. Makanan ini disajikan langsung di pondok-pondok tersebut.

Rata-rata, barang-barang di pondok-pondok ini dijual seharga 2 hingga 50 kina. Atau Rp 10-ribu hingga Rp 300-ribu.  Para pedagang ini menerima pembelian dengan uang Kina ( mata uang PNG) dan juga uang Rupiah. Untuk diketahui, mata uang Kina lebih besar nilainya dari uang Rupiah. Untuk 1 Kina kursnya dikisaran Rp 4000 – Rp 5000.

Di wilayah PNG terlihat juga tentara PNG berjaga-jaga dengan senjata. Tapi jangan khawatir, mereka cukup ramah dengan pengunjung. Jika tidak membuat gaduh, tidak akan diapa-apakan.

Dua orang pengunjung pulang membawa souvenir payung dengan warna khas PNG yang langsung digunakan, usai membelinya dari penjual warga PNG

Oh ya, beberapa puluh meter sebelum Pos Lintas Batas, ada Pasar yang dibangun Pemerintah Indonesia. Pasar ini dibuka setiap Selasa dan Kamis. Disini pedagang dari Jayapura dan sekitarnya membawa dagangan mereka untuk dijual ke masyarakat PNG, begitu juga sebaliknya, barang-barang dari PNG dijual ke masyarakat dari Jayapura.  Anda tertarik? (admin VP)

 

 

 

Share:
  • 7
    Shares

Tinggalkan Balasan