Paradoks Emas Bawah Laut Papua

Ditemani lagu-lagu  Colbie Caillat bergendre pop dengan music mid-beat  ringan,  saya membolak-balik majalah yang disediakan di kantong kursi Pesawat Garuda Indonesia dalam perjalanan kemarin.

Tak banyak yang terlalu menarik perhatian. Artikel tentang mode, info produk dan beraneka iklan, travel notes,  informasi hotel, hingga cerita tempat-tempat wisata dari Sabang sampai Merauke.  Lalu ada kemudian mencuri perhatian saya  ketika sampai pada sebuah artikel yang berjudul  Top Diving Heaven in Indonesia. Artikel berisi cerita beberapa penyelam ternama Indonesia yang sudah kenyang pengalaman menjajaki tempat-tempat diving mulai dari Aceh hingga Papua.

Dari artikel ini disebutkan, kekayaan bawah laut Raja Ampat berada di urutan pertama, terbaik dan terlengkap juga terkaya isi lautnya. Ya, kekayaan bawah laut Raja Ampat , bukan saja yang terbaik di Indonesia tetapi juga di Asia, bahkan berkelas dunia.  Tidak heran, alam bawah laut Raja Ampat dijuluki “Amazon of the Sea”. Begitu hebatnya, Kepulauan Raja Ampat ini disebut sebagai manifestasi mimpi basah para penyelam. Wow!!

Seumur-umur, saya belum pernah kesana, tetapi bisa dibayangkan betapa dasyatnya gambaran yang diberikan tentang wilayah itu. Ingin rasanya suatu waktu ke sana dan menikmati Amazon itu.  Penasaran!  Soal menyelam diantara koral dan karang di dasar laut pernah menjadi dunia saya dimasa kecil, tentu saya tidak ragu melakukannya lagi kapan saja.

Melihat foto seekor ikan pari (Manta birostris) berwarna coklat berbintik hitam dengan Lebarnya 4×6 meter persegi, kira-kira seukuran tenda sewaan dan seorang penyelam yang mengikutinya dari bawah. Perbandingan ukuran ikan itu dan penyelam  seperti sebatang korek api dan dosnya. Warna biru laut dan cahaya matahari yang menerobos ke dasar laut,membuat pemandangan itu menjadi sangat indah. Kerennn!!!  Makin penasaran saya.

WWF dalam survey ilmiah kompherenship pertama di Raja Ampat menemukan hampir 1000 spesies ikan tropis di sana- hebatnya lagi, sebagian besar tidak pernah dikenal sebelumnya.

Dibanding surga diving lainnya, ke Raja Ampat termasuk yang mahal.  Kabar yang saya dengar, bila ingin berwisata kesana harus merogoh saku belasan hingga puluhan juta rupiah. Tetapi saya yakin, harga tersebut cukup pantas jika mempertimbangkan sensasi yang ditawarkannya. Ini pun direkomendasikan para penyelam itu.

Di urutan kedua ada taman laut Komodo National Park di Nusa Tenggara Timur. Ketiga, Weh Aceh Island. Keempat, ada Bali. Kelima, Lembeh Strait dan Bunaken Marine Park di Sulawesi Utara. Ke enam, Cenderawasih Bay National Park, di Papua dan West Papua. Ke tujuh di Alor, East Nusatenggara.

Selain, Raja Ampat, ada Cenderawasih Bay (Teluk Cenderawasih), lokasinya di Papua dan Papua Barat. Teluk dengan luas 1.453.500 Ha ini  merupakan Taman Nasional Laut terluas di Indonesia. Wilayah ini disebut Taman Nasional Laut Teluk Cenderawasih (TNTC),

Teluk Cenderawasih dikenal dengan koleksi karangnya.  Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, yang menjadi magnet baru yakni Whale Shark (Hiu Paus). Ikan ini merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Badan ikan ini berwarna abu-abu kehitaman dengan bintik-bintik putih. Panjang tubuhnya bisa melebih 12 meter atau setara panjang sebuah Bus. Bayangkan!!

Di banyak Negara di kawasan equator, ikan ini hanya dapat ditemui di musim-musim tertentu, tetapi di TeluK Cenderawasih, sejak 2011, Hiu Paus berkeliaran setiap hari. Tidak tergantung bulan, tiap waktu minimal 5 ekor ikan bisa dilihat. Begitu pengakuan Cahyo Alkantana, underwater & wildlife Filmmaker, Host of Kompas Tv’s.’teroka’.  Bahkan dia mengaku terakhir kesana, ia melihat 20 ekor Whale Shark sepanjang 12 – 15 meter.

Bayangkan saja, jika ada 12 ekor ikan Hiu seukuran Bus mondar mandir setiap hari di Teluk Cenderawasih. Seperti apa yang ramenya? Lagi-lagi saya penasaran betul bagaimana bentuknya.

Mendapati kenyataan bahwa ikan hiu terbesar di dunia itu berada di teluk Cenderawasih,  saya sungguh berbangga, karena bukan saja  karena ini merupakan kekayaan alam Papua yang langka dan unik, tetapi sekaligus potensi besar wisata laut yang  jika digarap baik, akan mendapatkan income yang luar biasa bagi pemerintah Papua, Papua Barat tetapi juga masyarakat bisa menikmatinya.

Siapa tidak tertarik?  wisatawan, peneliti dari segala penjuru dunia, termasuk turis lokal akan berdatangan kesana untuk merasakan dan menikmati petualangan kelas dunia itu di Tanah Papua.

Namun ada yang terasa kurang mengenakan. Ketika sampai di halaman terakhir artikel itu, saya melihat sesuatu yang membuat benar-benar prihatin. Di keterangan akhir artikel itu tertulis,  Jika ingin Diving ke Raja Ampat  Dive Operatornya ada 3. Dua beralamat di Raja Ampat ( Misool Eco Resort, berada di Batbitim Raja Ampat dan Papua Diving, di KRI Mansuar , Raja Ampat) satu operatornya di Bali (Raja Ampat Liveaboards. Jl By Pass Ngurah Rai, 46e, Sanur, Bali.

Lebih tercengang lagi, saat melihat bahwa jika ingin Diving ke Teluk Cenderawasih, semua operatornya tidak berada di Papua, tetapi di Bali. ( D Cuba Club. Jl Kasuari Sari 4, Sanur, Bali. Premier Liveaboard Diving, Jl. Gunung Salak, Kerobokan, Bali dan Dive Damai. Jl. By Pass Ngurah Rai 149, Sanur Kauh, Bali.)

Saya Search di Internet mencari tahu cara dan bagaimana, atau melalui operator mana di Papua jika ingin berwisata laut ke teluk Cenderawasih, tak banyak informasi didapat. Promosinya juga sangat kurang. Tidak ada operator di Papua yang menggarap potensi ini. Kalaupun ada, masih sangat tradisonal dengan mengandalkan masyarakat lokal,  sekadar menyewa perahu motor atau speedboat untuk mengantarkan wisatawan agar sampai kesana. Di Nabire, terutama disekitar wilayah Kuatisore.

Tanah Papua yang punya kekayaan alam, tapi bukan masyarakat Papua yang mengelolanya, justru  yang mendapat keuntungan orang  di Luar Papua, sebab potensi kelas dunia di Tanah Papua ini semua digarap operator di Jakarta, Bali, Surabaya atau Sulawesi. Berapa keuntungan didapat para operator itu? Berapa dolar yang mereka dapat dari setiap wisatawan yang berkunjung? Lalu, kita bertanya Papua dapat apa? Masyarakat setempat terima apa? Hanya cerita-cerita saja?

Apakah Dinas Pariwisata Provinsi Papua tidak melirik potensi ini sebagai asset kekayaan alam yang bisa dikelolah dan dimanfaatkan? Apakah tidak ada satu penduduk Papua yang mampu menjadi operator lokal?

Benar-benar tak mengerti dengan terabaikan dan luputnya potensi kelas dunia oleh dinas terkait maupun masyarakat di Tanah Papua. Keterbatasan di sana-sini pasti menjadi alasan, tetapi jika tidak dimulai dan membiarkan potensi ini digarap pihak luar tanpa memberikan keuntungan bagi kita, maka selamanya akan terus terabaikan. Sampai kapan harus menunggu.

Sebenarnya pemerintah cukup memfasilitasi dan membantu memberi kemudahan bagi masyarakat untuk membangun sebuah operator lokal di beberapa tempat, misalnya di Biak, Serui  atau Nabire untuk menggarap potensi ini.

Memang, akan Lebih baik jika kekayaan alam ini dikelola oleh seorang professional, tetapi tak perlu menunggu, operator lokal dapat dijalankannya, misalnya dilakukan kelompok karang taruna kampung setempat, dan pemerintah membantu memberi pelatihan, modal dan pengawasan dalam menjalankannya. Misalnya saja, projek ini dinamakan “ Adventure with the world’s largest fish at Teluk Cenderawasih”  atau Dive with the world’s largest fish!  waw..! asal digarap baik dan ada niat serius, dan dipromosikan dimana-mana, maka akan menjadi petualangan paling menarik yang akan membuat wisatawan berlomba-lomba ke Teluk Cenderawasih. Apalagi, dari referensi yang saya dapat, ikan ini terkenal ramah, tidak buas, dan bisa diajak bercengkrama.

Beberapa tahun lalu, saya mengikuti  Pameran Pariwisata terbesar  di dunia, International Tourism Bourse (Bursa Pariwisata Internasional) di Berlin, Jerman.  Pemprov Papua waktu itu mempromosikan Fertival Lembah Baliem, Ekotourism dan trakking ke Cartenz Piramid. Tidak terdengar sama sekali Ikan Terbesar di dunia dari teluk Cenderawasih.

Walau hingga saat ini belum ada action berarti, hari ini saya sangat yakin, petualangan bersama ikan terbesar di dunia tersebut akan menjadi petualangan paling menggiurkan seperti halnya mendaki ke puncak tertinggi Himalaya atau berjalan di tembok terpanjang di Dunia di China. Whale Shark, di Teluk Cenderawasih ini akan menjadi emas bawah laut yang  tidak saja membuat kita menjadi sangat bangga tetapi juga masyarakat bisa sejahtera karena daya tariknya bakal menyedot pelancong, peneliti dari senatero  penjuru dunia. (admin)

Share:
  • 15
    Shares

2 tanggapan pada “Paradoks Emas Bawah Laut Papua”

  1. Kalau mau diving dgn hius paus ada instrukturnya di nabire koq namanya bpk bram maruanya.. saya pribdi dl prnh berenang brsama hiu paus di sana dintr sm pak bram kalau berminat nnt sy ksh nomor kontaknya

    1. trima kasih infonya. Beliau ini operator lokal? sangat bagus kalau sudah ada yg langsung tangani. boleh sy dishare no kontaknya? nanti sy tambahkan di artikelnya. skali lagi trima kasih.

Tinggalkan Balasan